TUGAS MAKALAH
AGAMA ISLAM
Ketahanan Pribadi Muslim Dalam Menghadapi Musibah
Nama : Adi Handoko
Nim : 11080029
Fakultas : Psikologi
Universitas Borobudur 2010
BAB I
PENDAHULUAN
UMAT ISLAM DAN BANGSA INDONESIA
UNTUK BERISTIGHFAR DAN BERTAUBAT KEPADA ALLAH
Musibah seakan tidak pernah berhenti menimpa umat Islam dan bangsa Indonesia.
Setelah musibah besar Tsunami di Aceh dan sekitarnya. Kini musibah itu datang silih berganti, musibah gempa tektonik di Yogyakarta dan Jawa Tengah, banjir bandang di Sulawesi, Kalimantan dan Lampung, Demam Berdarah di sebagian wilayah dan kota-kota besar di Indonesia dan musibah-musibah lainnya. Inna Lillahi wa Inna ilaihi Raaji�uun.
Musibah itu bagian dari kehendak dan kekuasaan Allah atas hamba-Nya. Peringatan bagi manusia yang lalai agar beristighfar dan taubat dari kesalahan dan kemaksiatan
yang dilakukannya kemudian kembali ke jalan yang benar. Ujian bagi orang-orang yang beriman untuk bersabar dari setiap musibah yang menimpanya dan hukuman bagi orang-orang yang zhalim dan kufur kepada Allah. Allah Ta�ala berfirman:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"
Saudaraku kaum muslimin,
Sebagai orang beriman, marilah kita melihat musibah ini dari tiga dimensi: dimensi keimanan, dimensi keilmuan dan dimensi kemanusiaan. Dimensi keimanan mengajak kita untuk merenung, mempelajari dan menangkap hikmah dari tanda-tanda zaman ini. Kemudian kita bermuhasabah, mendekatkan diri kepada Allah, beristighfar dan bertaubat dari segala kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Dimensi keilmuan mengharuskan kita untuk mengantisipasi sebab-sebab gempa dan bencana alam lainnya kemudian berikhtiar secara ilmiyah untuk mengurangi korban baik jiwa maupun harta. Dimensi kemanusiaan memanggil kita untuk peduli, tanggap dan cepat membantu saudara kita dengan segala daya dan potensi yang Allah berikan kepada kita.
Dengan energi keimanan, keilmuan dan kemanusiaan yang Allah berikan kepada kita, insya Allah kita mampu mengatasi musibah ini.
Saudaraku umat Islam dan bangsa Indonesia�.
Marilah kita membuka mata hati kita, belajar dan bermuhasabah dari setiap musibah.
1. Kita semua baik pemerintah maupun rakyat harus segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya. Taubat dari keyakinan yang salah, kewajiban yang ditinggalkan dan kemaksiatan yang dilanggar. Musibah ini adalah semata bagian dari kekuasaan Allah untuk mengingatkan hamba-Nya agar mereka bertaubat dan kembali pada Allah.
Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."
2. Musibah ini harus menyadarkan kita, bahwa kita ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah, kita tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan kecuali dari Allah.
Kita sangat membutuhkan Allah, kita sangat lemah dan kita ini hamba Allah yang harus tunduk patuh pada-Nya.
�Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji� (QS Faathir 15).
3. Musibah ini adalah bagian dari ujian Allah Ta�ala kepada hamba-Nya orang- orang beriman. Musibah itu bagian dari sifat Rahman dan Rahiim-Nya, agar Allah meningkatkan kualitas orang-orang beriman dan menghapuskan dosa mereka. Allah tidak punya kepentingan untuk menyiksa hamba-Nya, bahkan rahmat Allah mendahului murka-Nya.
�Sesungguhnya besarnya balasan sesuai besarnya ujian. Dan Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka diuji. Siapa yang ridha, maka Allah juga ridha, dan siapa yang benci, maka Allah juga benci�(HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
4. Kepada seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia, marilah kita jadikan musibah ini sebagai sarana muhasabah (evaluasi), pendekatan diri kita kepada Allah dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS Al-Hasyr 1)
5. Kepada seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia, kewajiban dalam menangani korban musibah ada pada pundak kita semua. Marilah kita bekerjasama untuk menanggulanginnya secara cepat dan menyeluruh. Merawat, memberi makanan dan minuman, menyediakan air bersih, memberikan tempat penampungan, menyelenggarakan jenazah secara Islami bagi korban meninggal, serta merehabilitasi mental, fisik dan sarana mereka secara baik dan cepat.
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya" (QS Al-Maa-idah2).
6. Kepada seluruh relawan dan tim penanggulangan musibah, baik pemerintah maupun masyarakat, marilah kita ikhlaskan niat kita, bahwa upaya ini semata-mata amal shalih dan ibadah kepada Allah SWT. bukan untuk meraih popularitas, kepentingan politik dan pujian manusia. ".. padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS Al-Bayyinah 5).
Akhirnya, semoga Allah menerima segala amal shalih dan ibadah kita, menghapuskan segala dosa dan kesalahan kita dan melindungi kita dari musibah terbesar, yaitu musibah dalam urusan agama, musibah siksa api neraka. Amien
BAB II
PERMASALAHAN
Sungguh musibah silih berganti menimpa kaum muslimin. Realita ini mengharuskan kita semua untuk berpikir keras mencari solusi permasalahan. Banyak analisis yang diberikan beberapa pihak untuk mengidentifikasi problem yang sebenarnya dihadapi oleh kaum muslimin. Jika identifikasi yang diajukan tidak tepat, tentu solusi yang ditawarkan juga tidak pas.
Berbagai Solusi yang Ditawarkan Berbagai Pihak
Ada yang mengatakan bahwa problema umat Islam yang paling mendasar adalah konspirasi musuh-musuh Islam yaitu orang-orang kafir dan kemenangan orang kafir atas kaum muslimin. Pihak pertama ini menawarkan solusi berupa menyibukan kaum muslimin dengan strategi-strategi orang-orang kafir, perkataan dan penegasan mereka.
Ada juga yang mengatakan bahwa permasalahan kaum muslimin yang paling pokok adalah berkuasanya para pemimpin yang zalim di berbagai negeri kaum muslimin. Sehingga pihak kedua ini menawarkan solusi berupa upaya menggulingkan pemerintahan yang ada dan menyibukkan kaum muslimin dengan hal ini.
Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa masalah kita yang paling pokok adalah perpecahan kaum muslimin. Oleh karenanya solusi tepat adalah menyatukan kaum muslimin sehingga kaum muslimin unggul dalam kuantitas.
Ada juga analisis keempat. Analisis ini mengatakan bahwa penyakit akut umat ini adalah meninggalkan jihad sehingga obat penyakit ini adalah mengibarkan bendera jihad dan menabuh genderang perang melawan orang-orang kafir.
Ada juga analisis yang lainnya bahwa problema umat Islam ini adalah karena masih banyaknya kaum muslimin yang berada di bawah garis kemiskinan sehingga mereka menawarkan solusi untuk memperbaiki ekonomi kaum muslimin.
Ada juga yang mengatakan bahwa problema umat Islam adalah karena belum adanya khilafah islamiyah. Sehingga solusi yang tepat menurut mereka adalah dengan menegakkan khilafah Islamiyah.
Marilah kita telaah bersama pendapat-pendapat di atas dengan dua panduan kita yaitu Al Qur’an dan Sunnah.
BAB III
PEMBAHASAN
Problema: Konspirasi Orang Kafir
Terkait dengan pendapat pertama, kita jumpai firman Allah,
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu” (QS Ali Imran: 120).
Ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa jika kita benar-benar bertakwa kepada Allah maka konspirasi musuh bukanlah ancaman yang berarti.
Problema: Penguasa yang Zalim
Tentang pendapat kedua, kita jumpai firman Allah,
“Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim disebabkan maksiat yang mereka lakukan” (QS Al An’am: 129).
Ayat ini menunjukkan bahwa penguasa yang zalim hukuman yang Allah timpakan kepada rakyat yang juga zalim disebabkan dosa-dosa rakyat. Jika demikian, penguasa yang zalim bukanlah penyakit bahkan penyakit sebenarnya adalah keadaan rakyat.
Problema: Perpecahan Kaum Muslimin
Sedangkan untuk pendapat ketiga kita dapati firman Allah,
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun” (QS At Taubah:25).
Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan dan jumlah yang banyak tidaklah bermanfaat jika kemaksiatan tersebar di tengah-tengah mereka. Kita lihat dosa ujub telah menghancurkan faedah dari jumlah yang banyak sehingga para shahabat menuai kekalahan pada saat perang Hunain. Di antara maksiat adalah menyatukan barisan bersama orang-orang yang membenci ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sikap tepat terhadap mereka adalah memberikan nasihat, bukan mendiamkan kesalahan. Sikap minimal adalah mengingkari dengan hati dalam bentuk tidak menghadiri acara-acara yang menyimpang dari sunnah bukan malah menikmati.
Problema: Meninggalkan Jihad
Untuk pendapat keempat kita katakan bahwa jihad itu bukanlah tujuan namun yang menjadi tujuan adalah menegakkan agama Allah di muka bumi. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin lemah dari sisi agama dan persenjataan maka menabuh genderang perang pada saat itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah tidak mewajibkan jihad kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau masih berada di Mekah dikarenakan berperang ketika itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.
Problema: Kemiskinan
Jika kita melihat pendapat yang lainnya yang mengatakan bahwa solusi problematika umat adalah kemiskinan, maka ini juga bisa disanggah dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah, sebenarnya bukanlah kemiskinan yang aku takutkan akan membahayakan kalian. Akan tetapi, yang kutakutkan adalah apabila dunia telah dibentangkan pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan pula bagi orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun akhirnya berlomba-lomba untuk meraih dunia sebagaimana orang-orang terdahulu berlomba untuk mendapatkannya. Akhirnya kalian pun akan binasa, sebagaimana mereka binasa. ” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah perkara yang ditakutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam takut adalah apabila manusia sudah terpesona dengan dunia dan akibatnya mereka melanggar batasan-batasan Allah dan terjerumus dalam kubangan maksiat.
BAB IV
KESIMPULAN
Solusi yang Tepat: Membersihkan Diri dari Dosa Terutama Kesyirikan dan Kembali Mentauhidkan-Nya
Oleh karena itu, identifikasi yang tepat untuk penyakit yang membinasakan umat dan menjadikan kaum muslimin terbelakang adalah dosa-dosa kita sendiri. Banyak dalil dari al Qur’an yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah firman Allah,
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Ali Imran:165).
Allah Ta’ala juga berfirman,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
‘Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan,
“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Ibnu Rojab Al Hambali –rahimahullah- mengatakan,
“Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75)
Oleh sebab itu, obat yang mujarab adalah membersihkan diri kita dan seluruh umat dari dosa. Sedangkan dosa yang paling berbahaya adalah syirik dan bid’ah.
Allah Ta’ala menjelaskan bahwa dosa syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni jika pelakunya masih belum bertaubat ketika kematian menjemputnya. Inilah yang menunjukkan bahaya kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah kesyirikan, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48)
Begitu juga bid’ah (melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Nabi) adalah dosa yang berbahaya karena sebab bid’ah, amalan seorang muslim menjadi tertolak dan sia-sia belaka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim) Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan, “Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)
Demikian pula kita berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengembalikan umat kepada panduan hidup mereka yaitu Al Qur’an dan sunnah Rasul sebagaimana pemahaman salaf. Kita habiskan umur dan harta kita untuk menegakan bendera tauhid dan sunnah dan menghancurkan bendera syirik dan bid’ah dengan berbagai sarana dan media yang kita miliki.
Jika bendera tauhid dan sunnah telah tegak berkibar dan bendera syirik dan bid’ah hancur maka saat itu kita berhak mendapatkan janji Allah yaitu kemenangan.
Sabtu, 02 Januari 2010
Kamis, 31 Desember 2009
FENOMENA PENGOBATAN PONARI (Ad Dakwah Edisi 014)
Wednesday, 14 October 2009 13:49 | Written by
Kaum muslimin rahimakumullah,
Hampir sebulan terakhir ini, masyarakat dihebohkan oleh pengobatan dengan batu yang dilakukan Ponari, anak kelas 3 SD di Jombang, Jawa Timur. ‘Dukun cilik’ itu tiap harinya diserbu ribuan pasien yang rela antri berhari-hari untuk diobati.
Konon kabarnya penyakit apapun bisa sembuh setelah minum air yang dicelup batu oleh Ponari. Konon Ponari mendapatkan batu itu yang jatuh di depan rumahnya setelah dia kesambar petir.
Tentu saja fenomena Ponari ini menjadi kontroversi. Sebagai muslim kita perlu melihat fenomena ini dari kaca mata Islam. Yakni, bagaimana pandangan Islam tentang sakit, obat dan pengobatan, kesembuhan, serta bagaimana hukum berobat?
Kaum muslimin rahimakumullah,
Sakit adalah fenomena yang biasa dialami manusia. Siapapun manusia pasti mengalami sakit. Dalam pandangan Islam ini termasuk dalam taqdir Alllah SWT dan Dialah pula yang menyembuhkannya. Allah SWT berfirman:
Karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta Alam, (yaitu Tuhan) yang Telah menciptakan aku, Maka dialah yang menunjuki aku, Dan Tuhanku, yang dia memberi makan dan minum kepadaku, Dan apabila Aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku, Dan yang akan mematikan aku, Kemudian akan menghidupkan Aku (kembali), (QS. As Syu’ara: 77-81)
Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa Allah, Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam adalah yang menciptakan manusia, memberikan petunjuk hidup kepada manusia, yang memberikan makan dan minum kepada manusia, dan yang menyembuhkan penyakit manusia, serta yang mematikan dan pasti akan menghidupkan kembali manusia pada hari akhirat.
Dengan demikian, segala kesembuhan (syifaa) pada hakikatnya hanyalah dari Allah SWT semata. Itu juga tercermin dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk menghilangkan penyakit:
Dengan nama Allah aku ruqyah engkau dan semoga Allah menyembuhkanmu dari segala penyakit, Wahai Tuhan Seluruh Manusia hilangkanlah penyakitnya, sembuhkanlah, Engkaulah Sang Penyembuh, tiada yang menyembuhkan kecuali Engkau. (Musnad Ahmad Juz 54/261).
Dengan demikian syiriklah orang yang beranggapan bahwa ada kekuatan selain Allah yang bisa menyembuhkan. Akan syiriklah orang yang menganggap suatu benda bisa menyembuhkan tanpa ketetapan dan izin dari Allah SWT.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun tentang obat dan berobat adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Allah SWT. Tentang obat diriwayatkan bahwa baginda Rasulullah saw. bersabda:
Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit melainkan Dia turunkan suatu kesembuhan (Sahih Bukhari Juz 17/433).
Dalam riwayat lain Rasul bersabda:
Setiap penyakit ada obatnya, maka bila telah ditimpakan obat untuk suatu penyakit maka akan hilanglah penyakit itu dengan izin Allah Azza wa Jalla” (Sahih Muslim Juz 11/211)
Secara khusus Rasulullah saw. menyebut al habbatus sauda yang mengandung kesembuhan untuk berbagai penyakit, sebagaimana sabdanya:
“Di dalam al habbatus sauda (biji hitam) terdapat suatu kesembuhan dari seluruh penyakit kecuali as saam”. Berkata Ibnu Syihab as saam adalah kematian dan al habbatus sauda (biji hitam) adalah jinten”. (Sahih Bukhari Juz 17/449)
Selain itu Rasulullah saw. juga menyebut teknik pengobatan al hijamah (bekam) sebagai teknik pengobatan untuk menghilangkan berbagai penyakit. Beliau saw. bersabda:
Sesungguhnya cara berobat kalian yang paling bagus adalah berbekam (Sahih Bukhari Juz 17/462).
Bekam adalah teknik pengobatan dengan mengeluarkan darah kotor dari tubuh.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Syariat Islam memerintahkan kepada kita agar menjaga kesehatan dengan cara menjalani hidup secara normal sesuai dengan kaidah-kaidah kesehatan, yakni mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, mandi dan melaksanakan thaharah, menjaga kebersihan lingkungan, bekerja, melaksanakan sholat, membaca Al Quran, dan berdzikir setiap hari.
Demikian juga melatih diri dengan olah raga seperti berenang, berkuda, dan memanah yang juga penting untuk persiapan kesamaptaan jasmani dalam rangka jihad fi sabilillah. Semua kehidupan normal sesuai syariat Islam tersebut insyaallah menjaga kesehatan kita semua.
Bilamana kita menderita sakit atau menderita luka-luka, maka syariat Islam mengajarkan agar kita berobat. Rasulullah saw. bersabda:
Berobatlah karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak meletakkan suatu penyakit kecuali menetapkan obatnya (Sunan AL Kubra lil Baihaqi Juz 9/343)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menjenguk seorang laki-laki yang terluka lalu beliau meminta orang-orang untuk memanggilkan tabib (dokter) dari bani Fulan untuk mengobatinya (Musnad Ahmad Juz 47/127 )
Namun Rasulullah saw. juga mengajarkan untuk bersabar ketika ditimpa sakit. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah dan berkata aku terkena penyakit dan tersingkap pakaianku maka doakanlah aku kepada Allah. Maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya:
“Jika engkau mau bersabar engkau akan mendapatkan surga, namun jika engkau mau saya doakan kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu”
Maka wanita itu berkata: Aku akan bersabar, hanya saja mohon doakan kepada Allah agar bila aku kumat tidak sampai tersingkap pakaianku. Lalu Rasulullah saw. mendoakannya.
Dengan demikian bagi orang yang sakit disunnahkan berobat dan berharap mendapatkan kesembuhan dari Allah SWT, maka dia akan mendapatkan pahala ikhtiar mencari obat atau kesembuhan dengan tetap menjaga keyakinannya bahwa kesembuhan itu hakikatnya dari Allah itu. Namun bila dia bersabar maka akan mendapatkan pahala bersabar atas taqdir Allah SWT kepadanya.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Fenomena pengobatan Ponari memang belum jelas benar bagaimana sebuah batu yang dicelupkan menjadikan kesembuhan. Sepanjang tidak ada nash Al Quran atau hadits tentu tidak bisa kita memastikan kebenarannya.
Oleh karena itu, perlu penelitian fakta apakah betul batu tersebut berkhasiat sebagai obat sebagaimana habatus sauda atau madu yang disebutkan Al Quran dan As Sunnah atau zat-zat lain yang sudah dikenal secara medis maupun pengobatan herbal tradisional memiliki khasiat menyembuhkan yang Allah taqdirkan kepadanya.
Fenomena berjubelnya ribuan orang menanti pengobatan Ponari sekaligus juga memberikan gambaran kepada kita tentang belum cukupnya fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah dan mahalnya pelayanan kesehatan di negeri ini. Padahal menurut syariat Islam, negara wajib menyediakan layanan kesehatan kepada masyarakat dengan cuma-cuma.
Oleh karena itu, perlu ditinjau kembali anggaran Departemen Kesehatan dan perlunya ditingkatkan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) agar memenuhi hak seluruh rakyat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Ini menjadi tanggungan negara, karena pada hakikatnya negara adalah penggembala bagi rakyatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw.
Barakallahu lii walakum
Kaum muslimin rahimakumullah,
Hampir sebulan terakhir ini, masyarakat dihebohkan oleh pengobatan dengan batu yang dilakukan Ponari, anak kelas 3 SD di Jombang, Jawa Timur. ‘Dukun cilik’ itu tiap harinya diserbu ribuan pasien yang rela antri berhari-hari untuk diobati.
Konon kabarnya penyakit apapun bisa sembuh setelah minum air yang dicelup batu oleh Ponari. Konon Ponari mendapatkan batu itu yang jatuh di depan rumahnya setelah dia kesambar petir.
Tentu saja fenomena Ponari ini menjadi kontroversi. Sebagai muslim kita perlu melihat fenomena ini dari kaca mata Islam. Yakni, bagaimana pandangan Islam tentang sakit, obat dan pengobatan, kesembuhan, serta bagaimana hukum berobat?
Kaum muslimin rahimakumullah,
Sakit adalah fenomena yang biasa dialami manusia. Siapapun manusia pasti mengalami sakit. Dalam pandangan Islam ini termasuk dalam taqdir Alllah SWT dan Dialah pula yang menyembuhkannya. Allah SWT berfirman:
Karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta Alam, (yaitu Tuhan) yang Telah menciptakan aku, Maka dialah yang menunjuki aku, Dan Tuhanku, yang dia memberi makan dan minum kepadaku, Dan apabila Aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku, Dan yang akan mematikan aku, Kemudian akan menghidupkan Aku (kembali), (QS. As Syu’ara: 77-81)
Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa Allah, Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam adalah yang menciptakan manusia, memberikan petunjuk hidup kepada manusia, yang memberikan makan dan minum kepada manusia, dan yang menyembuhkan penyakit manusia, serta yang mematikan dan pasti akan menghidupkan kembali manusia pada hari akhirat.
Dengan demikian, segala kesembuhan (syifaa) pada hakikatnya hanyalah dari Allah SWT semata. Itu juga tercermin dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk menghilangkan penyakit:
Dengan nama Allah aku ruqyah engkau dan semoga Allah menyembuhkanmu dari segala penyakit, Wahai Tuhan Seluruh Manusia hilangkanlah penyakitnya, sembuhkanlah, Engkaulah Sang Penyembuh, tiada yang menyembuhkan kecuali Engkau. (Musnad Ahmad Juz 54/261).
Dengan demikian syiriklah orang yang beranggapan bahwa ada kekuatan selain Allah yang bisa menyembuhkan. Akan syiriklah orang yang menganggap suatu benda bisa menyembuhkan tanpa ketetapan dan izin dari Allah SWT.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun tentang obat dan berobat adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Allah SWT. Tentang obat diriwayatkan bahwa baginda Rasulullah saw. bersabda:
Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit melainkan Dia turunkan suatu kesembuhan (Sahih Bukhari Juz 17/433).
Dalam riwayat lain Rasul bersabda:
Setiap penyakit ada obatnya, maka bila telah ditimpakan obat untuk suatu penyakit maka akan hilanglah penyakit itu dengan izin Allah Azza wa Jalla” (Sahih Muslim Juz 11/211)
Secara khusus Rasulullah saw. menyebut al habbatus sauda yang mengandung kesembuhan untuk berbagai penyakit, sebagaimana sabdanya:
“Di dalam al habbatus sauda (biji hitam) terdapat suatu kesembuhan dari seluruh penyakit kecuali as saam”. Berkata Ibnu Syihab as saam adalah kematian dan al habbatus sauda (biji hitam) adalah jinten”. (Sahih Bukhari Juz 17/449)
Selain itu Rasulullah saw. juga menyebut teknik pengobatan al hijamah (bekam) sebagai teknik pengobatan untuk menghilangkan berbagai penyakit. Beliau saw. bersabda:
Sesungguhnya cara berobat kalian yang paling bagus adalah berbekam (Sahih Bukhari Juz 17/462).
Bekam adalah teknik pengobatan dengan mengeluarkan darah kotor dari tubuh.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Syariat Islam memerintahkan kepada kita agar menjaga kesehatan dengan cara menjalani hidup secara normal sesuai dengan kaidah-kaidah kesehatan, yakni mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, mandi dan melaksanakan thaharah, menjaga kebersihan lingkungan, bekerja, melaksanakan sholat, membaca Al Quran, dan berdzikir setiap hari.
Demikian juga melatih diri dengan olah raga seperti berenang, berkuda, dan memanah yang juga penting untuk persiapan kesamaptaan jasmani dalam rangka jihad fi sabilillah. Semua kehidupan normal sesuai syariat Islam tersebut insyaallah menjaga kesehatan kita semua.
Bilamana kita menderita sakit atau menderita luka-luka, maka syariat Islam mengajarkan agar kita berobat. Rasulullah saw. bersabda:
Berobatlah karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak meletakkan suatu penyakit kecuali menetapkan obatnya (Sunan AL Kubra lil Baihaqi Juz 9/343)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menjenguk seorang laki-laki yang terluka lalu beliau meminta orang-orang untuk memanggilkan tabib (dokter) dari bani Fulan untuk mengobatinya (Musnad Ahmad Juz 47/127 )
Namun Rasulullah saw. juga mengajarkan untuk bersabar ketika ditimpa sakit. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah dan berkata aku terkena penyakit dan tersingkap pakaianku maka doakanlah aku kepada Allah. Maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya:
“Jika engkau mau bersabar engkau akan mendapatkan surga, namun jika engkau mau saya doakan kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu”
Maka wanita itu berkata: Aku akan bersabar, hanya saja mohon doakan kepada Allah agar bila aku kumat tidak sampai tersingkap pakaianku. Lalu Rasulullah saw. mendoakannya.
Dengan demikian bagi orang yang sakit disunnahkan berobat dan berharap mendapatkan kesembuhan dari Allah SWT, maka dia akan mendapatkan pahala ikhtiar mencari obat atau kesembuhan dengan tetap menjaga keyakinannya bahwa kesembuhan itu hakikatnya dari Allah itu. Namun bila dia bersabar maka akan mendapatkan pahala bersabar atas taqdir Allah SWT kepadanya.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Fenomena pengobatan Ponari memang belum jelas benar bagaimana sebuah batu yang dicelupkan menjadikan kesembuhan. Sepanjang tidak ada nash Al Quran atau hadits tentu tidak bisa kita memastikan kebenarannya.
Oleh karena itu, perlu penelitian fakta apakah betul batu tersebut berkhasiat sebagai obat sebagaimana habatus sauda atau madu yang disebutkan Al Quran dan As Sunnah atau zat-zat lain yang sudah dikenal secara medis maupun pengobatan herbal tradisional memiliki khasiat menyembuhkan yang Allah taqdirkan kepadanya.
Fenomena berjubelnya ribuan orang menanti pengobatan Ponari sekaligus juga memberikan gambaran kepada kita tentang belum cukupnya fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah dan mahalnya pelayanan kesehatan di negeri ini. Padahal menurut syariat Islam, negara wajib menyediakan layanan kesehatan kepada masyarakat dengan cuma-cuma.
Oleh karena itu, perlu ditinjau kembali anggaran Departemen Kesehatan dan perlunya ditingkatkan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) agar memenuhi hak seluruh rakyat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Ini menjadi tanggungan negara, karena pada hakikatnya negara adalah penggembala bagi rakyatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw.
Barakallahu lii walakum
Minggu, 15 November 2009
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Sosial Anak
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilahirkan dengan sifat sosial dan sebagian lagi tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri dan lebih suka menyendiri daripada bersama-sama dengan orang lain atau introvert, secara alamiah memang sudah bersifat demikian. Mereka yang bersifat sosial dan pikirannya lebih banyak tertuju pada pada hal-hal diluar dirinya atau ekstrovert, juga sudah bersikap seperti itu karena alamiah yaitu faktor keturunan. Sedangkan orang yang menentang masyarakat yaitu orang yang antisosial, dan orang yang biasanya menjadi penjahat, diyakini oleh masyarakat tradisional sebagai warisan dari pada salah satu sifat buruk yang dimiliki oleh orang tuanya.
Hanya sedikit bukti yang menenjukan bahwa orang dilahirkan dalam keadaan sudah bersifat sosial, tidak sosial dan antisosial, dan banyak bukti sebaliknya yang menunjukan bahwa mereka bersifat demikian karena hasil belajar. Akan tetapi, belajar menjadi pribadi yang sosial tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Anak-anak akan belajar searah dengan daur (siklus), dengan periode kemajuan yang pesat diikuti oleh garis mendatar (plateau). Pada garis mendatar ini hanya terdapat sedikit kemajuan dalam diri anak. Periode kemajuan yang pesat bahkan kadang-kadang diikuti oleh tahap kemunduran ketingkat perilaku sosial yang rendah. Seberapa cepat anak dapat meningkat kembali dari garis mendatar itu sebagian besar bergantung pada kuat lemahnya motivasi mereka untuk bermasyarakat.
Ketika berakhirnya masa kanak-kanak, sebagian besar anak masih sangat kurang merasa puas dengan kemajuan yang mereka peroleh dalam segi perkembangan sosial. Hal ini benar sekalipun perkembangan mereka normal. Sejumlah studi tentang sumber ketidak bahagiaan yang dilaporkan oleh para remaja, banyak memberikan perhatian terhadap masalah sosial. Seperti dalam hal kemampuan bergaul, cara memperlakukan teman agar terhindar dari pertengkaran dan putusnya persahabatan, cara bersikap yang luwes dalam situasi sosial, dan cara mengembangkan kemampuan memimpin. Dan para remaja menganggap bahwa mereka belum menguasai dan memiliki kemampuan yang cukup dalam hal-hal tersebut.
RUMUSAN MASALAH
Adapun pembahasan yang akan dibahas dalam makalah perkembangan sosial ini diantaranya adalah sebagai berikut:
Apakah esensi (definisi) perkembangan sosial?
Bagaimana karakteristik teori yang terdapat pada perkembangan sosial?
Bagaimana bentuk – bentuk tingkah laku sosial pada anak ?
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial seorang anak?
Adakah hazard dalam proses perkembangan sosial anak!
Bagaimana pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku anak?
Bagaimana cara mengoptimalkan kemampuan perkembangan sosial seorang anak?
BATASAN MASALAH
Dalam makalah ini, permasalahan yang dibahas hanya seputar perkembangan anak dalam aspek sosial. Adapun pembahasannya dibatasi pada perkembangan sosial dan penyesuaian sosial yang terjadi pada masa anak-anak.
TUJUAN PENULISAN
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas matakuliah Psikologi Perkembangan. Selain itu tujuan penulisan makalah ini juga sebagai bahan belajar bagi kita untuk lebih mengenal tentang perkembangan sosial pada masa anak-anak, seperti:
Memahami hakikat dari perkembangan sosial anak.
Mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak.
Menemukan hazard-hazard yang terjadi dalam proses perkembangan sosial.
Dan dapat memahami tentan cara pengoptimalan kemampuan perkembangan sosial seorang anak.
PENDEKATAN PENULISAN
Adapun pendekatan yang dilakukan dalam penulisan makalah perkembangan sosial ini yaitu dengan cara pengumpulan data dari berbagai sumber buku dan dari beberapa sumber yang diambil dari hasil searching melaui internet. Makalah ini terdiri dari empat bagian, yitu pendahuluan yang meliputi; latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, dan pendekatan penlisan. Isi yang meliputi, definisi, karakteristik teori, esensi sosialisasi, bentuk tingkah lahu sosial, faktor yang mempengaruhu perkembangan, hazard, pola perilaku serta pengoptimalan perkembangan sosial anak. Pada bagian selanjutnya akan berisi tentang analisis kasus. Dan pada bagian terakhir akan dibahas tentang kesimpulan dan saran serta daftar pustaka.
BAB II
PERKEMBANGAN SOSIAL
DEFINISI PERKEMBANGAN SOSIAL
Menurut Hurlock perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial dengan berprilaku yang dapat diterima secara sosial, memenuhi tuntutan yang diberikan oleh kelompok sosial, dan memiliki sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya.
Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
KARAKTERISTIK TEORI
Menurut Erik H. Erikson (1963), perkembangan sosial terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu :
Infancy (0-1 tahun) → Trust VS Mistrust
Early childhood (1-3 tahun) → Autonomy VS Shame, doubt
Preschool age (3-6 tahun) → Inisiative VS Guilt
School age (6-12 tahun) → Industry VS Inveriority
Adolescence (12-20 tahun) → Identity VS Identity confusion
Young adulthood (20-30 tahun) → Intimacy VS Isolation
adulthood (30-65 tahun ) → Generativy VS Stagnation
Senescence (>65 tahun)→ Ego integrity VS Despair
ESENSI SOSIALISASI
Sikap anak-anak terhadap orang lain dalam bergaul sebagian besar akan sangat tergantung pada pengalaman belajarnya selama tahun-tahun awal kehidupan, yang merupakan masa pembentukan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Maka ada empat faktor yang mempengaruhinya :
Pertama, kesempatan yang penuh untuk bersosialisasi adalah penting bagi anak-anak, karena ia tidak dapat belajar hidup bersosialisasi jika kesempatan tidak dioptimalkan. Tahun demi tahun mereka semakin membutuhkan ksempatan untuk bergaul dengan banyak orang, jadi tidak hanya dengan anak yang umur dan tingkat perkembangannya sama, tetapi juga dengan orang dewasa yang umur dan lingkungannya yang berbeda.
Kedua, dalam keadaan bersama, anak tidak hanya harus mampu berkomunikasi dalam kata-kata yang dapat dimengerti orang lain, tetapi juga harus mampu berbicara tentang topik yang dapat dipahami dan dapat menceritakannya secara menarik kepada orang lain. Perkembangan bicara merupakan hal yang terpenting bagi perkembangan sosialisasi anak.
Ketiga, anak akan belajar bersosialisasi jika mereka mempunyai motivasi untuk melakukannya. Motivasi ini sangat bergantung pada tingkat kepuasaan yang diberikan kelompok sosialnya kepada anak. Jika mereka memperoleh kesenangan melalui hubungan dengan orang lain, mereka akan mengulangi hubungan tersebut.
Keempat, metode belajar yang efektif dengan bimbingan yang tepat adalah penting. Dengan metode coba ralat, anak akan mempelajari beberapa perilaku yang penting bagi perilaku sosialnya.
BENTUK-BENTUK TINGKAH LAKU SOSIAL
Dalam perkembangan menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-bentuk interkasi sosial diantarannya :
1. Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.
Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
2. Agresi (Agression)
Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya.
Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat.
3. Berselisih (Bertengkar)
Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
4. Menggoda (Teasing)
Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.
5. Persaingan (Rivaly)
Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pada usia enam tahun semangat bersaing ini akan semakin baik.
6. Kerja sama (Cooperation)
Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik.
7. Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.
8. Mementingkan diri sendiri (selffishness)
Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya
9. Simpati (Sympaty)
Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SOSIAL
Perkembangan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.
2. Kematangan
Untuk dapat bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.
3. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya.
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
5. Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.
HAZARD PADA PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK
Periode Perkembangan dalam Kandungan (Pra-Natal)
Pada masa periode ini, beberapa problem sosial dialami secara tidak langsung yaitu melalui perantara ibu yang hamil. Problem sosial yang dialami oleh ibu hamil juga dirasakan secara tidak langsung oleh anak pada masa pra natal. Salah satu problem sosial ini adalah: keadaan emosi seorang ibu.
Maksudnya adalah keadaan emosi yang dialami juga dirasakan oleh ibu, entah karena disebabkan terjadi masalah dengan suami, ataupun masalah sosial mengenai kehamilan ibu (hamil diluar nikah). Perubahan emosi pada ibu hamil menurut penelitian menyebabkan susunan saraf otonom akan melepaskan beberapa zat kimiawi ke dalam aliran darah, sehingga metabolisme dalam tubuh akan mengalami perubahan. Dengan begitu, akan terjadi perubahan sistem sirkulasi pada janin, dan akan mengganggu perkembangan janin. Apabila hal ini terjadi dapat mempengaruhi emosi janin, karena emosi janin sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu saat mengandung.
Periode Perkembangan Masa bayi
Periode masa bayi berlangsung saat bayi berusia 2 minggu hingga usia 2 tahun. Pada masa ini, bayi banyak melakukan eksplorasi terhadap banyak hal. Dimana terdapat berbagai resiko, untuk itu dalam masa ini bayi masih sangat ketergantungan terhadap orang lain. Untuk itu, dalam masa ini juga bayi sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang diterimanya. Dan juga masa ini juga menjadi dasar dalam masa mendatang, untuk itu pengaruh sosial yang diterima bayi haruslah memberikan contoh yang baik.
Periode Perkembangan Masa Kanak-kanak
Pada masa ini berlangsung pada usia 2 tahun sampai 11 tahun, dimana perkembangan daya pengamatan dan masa keindahan sedang berkembang. Masa ini anak suka mengamati dunia luarnya, serta suka mendengar cerita yang sesuai dengan fantasinya.
Dalam masa ini, merupakan masa dimana anak belajar atau menyukai bergabung dalam sebuah kelompok. Diawali dengan keinginan kontak sosial dengan anak lain dan bermain. Masa ini juga sering disebut sebagai masa bermain, karena anak lebih senang untuk bermain-main dengan anak-anak lain. Pola perilaku sosial yang sering dimunculkan pada anak adalah negativisme, agresif, berkuasa, memikirkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, merusak, pertentangan seks dan prasangka. Perilaku sosial pada anak muncul disebabkan dengan meniru perilaku orang lain, belajar model, reinforcement dari teman.
PENGARUH PERKEMBANGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAH LAKU
Dalam perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kepenilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil pemikiran dirinya tidak akan diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada yang menyembunyikannya atau merahasiakannya.
Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam pikirannya.
Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :
1. Cita-cita dan idealism yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain daalm penilaiannya.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.
CARA MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK
Senam bayi adalah suatu kegiatan yang bisa juga dikatakan sebagai bentuk permainan gerakan pada bayi. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, serta kemampuan pergerakan bayi secara optimal.
Kemampuan sosialnya, dengan memberikan dukungan untuk bersosialisasi dan melatih anak agar terampil melakukan interaksi dan komunikasi. Anak diberi kesempatan untuk dapat bergaul dengan orang lain dan tidak terlalu memberikan perlindungan yang berlebihan.
BAB III
KASUS
Permasalahan yang Mungkin Muncul
Terdapat berbagai kemungkinan permasalahan yang mungkin muncul pada aspek perkembangan sosial ini diantaranya adalah:
Kurangnya kerjasama dari pihak keluarga untuk mengembangkan aspek sosial sang anak (no cooperative)
Adanya faktor genetik yang menghambat atau bahkan tidak mampu untuk bersosialisasi, seperti, diskriminasi karena cacat atau kurangnya komunikasi karena tuna wicara.
Pola asuh yang salah dari orang tua, pola asuh dapat berdampak besar dalam aspek sosial anak di masa depannya, seperti contoh, jika seorang anak diasuh dengan pola ”ringan tangan” atau sedikit kesalahan langsung memakai fisik akan menjadikan anak tersebut ringan tangan juga dan kurang mendapat respon dalam sosialnya
Deskripsi Kasus
Pada tahun 2007 di Cekoslavia terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan seluruh negri tersebut. Ondra, seorang anak laki-laki berumur 8 tahun dikurung di ruang sempit tak berjendela, tanpa pakaian sehelai pun, dan dengan keadaan tangan dan kaki terikat, kekurangan makanan dan dehidrasi serta terpaksa harus memakan muntahannya sendiri. Diatas semua itu, dia bukan diculik, ataupun disiksa oleh orang asing, namun oleh ibunya sendiri. Ibunya yang mempunyai 2 anak lain, dan berkerja dalam penelitian psikologi anak yang sering menangani anak-anak autis. Ondra sendiri mempunyai masalah dengan pendengarannya, hal itu membuat ibunya mudah untuk mengajukan permohonan Homeschooling ke sekolah lamanya. Tidak ada yang merindukan Ondra di sekolah lamanya, atau dimanapun, karena dari awal, ibunya sudah melarang Ondra untuk bergaul dengan siapapun. Keberadaannya dalam penahanan ibunya sendiri berlangsung cukup lama, sampai suatu saat, tetangganya membeli sebuah alat komunikasi radio, dan menangkap frekuensi aneh yang bersuarakan seseorang meminta tolong. Suara itu berasal dari merk radio yang sama yang digunakan Ibu tersebut untuk berkomunikasi dengan Ondra di basement. Dehidrasi dan shock, anak berumur 8 tahun itu langsung dilarikan ke rumah sakit. Kedua saudaranya dibawa ke panti asuhan. Tak berapa lama, Ondra juga bergabung dengan mereka. Tapi seorang psikologis anak, Dita Pokorna, menjelaskan bahwa ketiga anak itu mengalami trauma yang sangat hebat.
“Kau bisa melihat Ondra sangat ketakutan akan segala hal, dan dia benar-benar ngeri pada tempat gelap. Dan pada saat ia akan mulai bergaul lagi dengan teman-temannya, pasti akan banyak reaksi-reaksi abnormal berkenaan dengan masa lalunya yang buruk”
Belum jelas apa motif dari Natasha, Ibu Ondra mengenai kenapa ia menyiksa anaknya berkenaan karena Natasha tidak bisa diinterogasi dan memilih untuk menutup mulutnya. Sedangkan ketiga anak itu juga tidak dapat ditanyai banyak hal. Begitu berhadapan dengan orang dewasa yang mereka tidak kenal, mereka akan mulai gemetar hebat, dan menunjukkan ketakutan yang tidak biasa. Hal yang sama juga terjadi dengan dua anak lainnya, walau tidak separah apa yang dialami Ondra. Ketiga anak tersebut mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapatnya kepada orang lain. Gangguan psikis, serta trauma yang besar seperti yang mereka alami akan menjadi gangguan untuk mereka bersosialisasi pada masa depan nantinya.
Sekarang, Ondra dan satu saudara angkatnya, Kamishca masih dalam tahap perawatan di rumah sakit kejiwaan di Ceko, sedangkan satu saudara laki-laki lainnya, mulai dapat bersekolah walaupun harus masuk ke sekolah luar biasa.
Ondra pasca penyiksaan
Analisis Kasus
Dari kasus diatas, Ondra, sang anak mengalami taruma yang berat terhadap dunia luar dikarenakan dikurung selama beberapa tahun di tempat yang gelap oleh ibunya sendiri. Sebelumnya juga dia tidak diizinkan untuk bergaul dengan teman-temannya di sekolah lamanya oleh ibunya yang membuatnya kurang dlam berkomunikasi. Karena apa yang dilakukan oleh ibunya tersebut Ondra mengalami shock dan trauma yang berat dan kesulitan untuk berkomunikasi karena kurang stimulus/pelatihan, dikarenakan perlakuan itu juga dia kurang mendapatkan basic trust dari orang tuanya yang menyebabkan dia tidak percaya dengan orang lain. Perilaku-perilaku abnormal ini terjadi karena pola asuh anak yang salah dilakukan oleh orangtuanya yang mengakibatkan anaknya mengalami kemunduran dan kesulitan untuk bersosialisasi.
BAB IV
KESIMPULAN
Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial dengan berprilaku yang dapat diterima secara sosial, memenuhi tuntutan yang diberikan oleh kelompok sosial, dan memiliki sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya. Sikap anak-anak terhadap orang lain dalam bergaul sebagian besar akan sangat tergantung pada pengalaman belajarnya selama tahun-tahun awal kehidupan, yang merupakan masa pembentukan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Perkembangan sosial anak dimulai dimulai sejak dini pada masa kanak-kanak dengan munculnya senyuman sosial. reaksi sosial pertama terjadi pada bayi yang ditujukan pada orang dewasa, kemudian pada bayi lain kemudian pada anak-anak. Pola perilaku sosial yang dibina pada masa tersebut merupakan landasan bagi perkembngan sosial kemudian.
Perkembangan sosial akhir masa kanak-kanak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu SD. Pada masa ini biasanya orang tua akan memberikan hanya sedikit waktunya untuk berinteraksi dengan anak, sosialisasi di sekolah pada umumnya terjadi atas dasar interest dan aktvitas bersama, lebih banyak meluangkan waktu untuk teman sebaya dan mulai membentuk hub. peer group (geng) yaitu usaha yang pada saat itu kesadaran sosial berkembang pesat dan telah menjadi pribadi sosial yang merupakan salah salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini dan akan lebih cenderung membentuk hubungan dengan teman perempuan. Gang pada masa kanak-kanak merupakan suatu kelompok yang spontan dan tidak mempunyai tujuan yang diterima secara sosial. Gang merupakan usaha anak untuk menciptakan suatu masyarakat yang sesuai bagi pemenuhan kebutuhan mereka. Gang memberikan pembebasan dari pengawasan orang dewasa. Namun gang juga merupakan modal bagi konsep diri yang baik. Bahkan anak yang tidak menjadi anggota gang akan terlantar dalam segi pengaruh sosialisasi ini dan kemungkinan besar akan mengembangkan konsep diri yang kurang baik.
SARAN
Saat ini banya bahaya dalam proses menuju perkembangan sosial yang umumnya dapat dikendalikan jika diketahui pada saat yang tepat dan jika dilakukan langkah perbaikan untuk menguranginya sebelum menjadi kebiasaan dan menimbulkan reputasi yang kurang baik. Karena itu sebaiknya orang tua benar-benar memperhatikan perkembangan anak sampai ia mampu untuk membedakan dan memilih mana yang baik dan buruk untuk dirinya (dewasa). Tetapi tidak dengan bersikap otoriter terhadap anak, supaya anak merasa lebih nyaman dan tidak takut untuk menceritakan konflik-konflik yang terjadi selama masa perkembangannya.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock B Elizabeth, Developmental Psychology; Mc Grow Hill, Inc, 1980, Alih Bahasa, Istiwidayanti dan suedjarwo, Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta, Erlangga, tt.
Hurlock B Elizabeth, Child Developmental; Mc Grow Hill, Inc, 1978, Alih Bahasa, dr. Med. Meitasari Tjandrasa dan Dra. Muslichah Zarkasih, Perkembangan Anak, Jakarta, Erlangga, tt.
Santrock, John W, Life-Span Development, WM, C Brown Comunication, Inc, 1995, Alih bahasa Achmad Chusairi, S.PSI, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta, Erlangga, 2002.
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilahirkan dengan sifat sosial dan sebagian lagi tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri dan lebih suka menyendiri daripada bersama-sama dengan orang lain atau introvert, secara alamiah memang sudah bersifat demikian. Mereka yang bersifat sosial dan pikirannya lebih banyak tertuju pada pada hal-hal diluar dirinya atau ekstrovert, juga sudah bersikap seperti itu karena alamiah yaitu faktor keturunan. Sedangkan orang yang menentang masyarakat yaitu orang yang antisosial, dan orang yang biasanya menjadi penjahat, diyakini oleh masyarakat tradisional sebagai warisan dari pada salah satu sifat buruk yang dimiliki oleh orang tuanya.
Hanya sedikit bukti yang menenjukan bahwa orang dilahirkan dalam keadaan sudah bersifat sosial, tidak sosial dan antisosial, dan banyak bukti sebaliknya yang menunjukan bahwa mereka bersifat demikian karena hasil belajar. Akan tetapi, belajar menjadi pribadi yang sosial tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Anak-anak akan belajar searah dengan daur (siklus), dengan periode kemajuan yang pesat diikuti oleh garis mendatar (plateau). Pada garis mendatar ini hanya terdapat sedikit kemajuan dalam diri anak. Periode kemajuan yang pesat bahkan kadang-kadang diikuti oleh tahap kemunduran ketingkat perilaku sosial yang rendah. Seberapa cepat anak dapat meningkat kembali dari garis mendatar itu sebagian besar bergantung pada kuat lemahnya motivasi mereka untuk bermasyarakat.
Ketika berakhirnya masa kanak-kanak, sebagian besar anak masih sangat kurang merasa puas dengan kemajuan yang mereka peroleh dalam segi perkembangan sosial. Hal ini benar sekalipun perkembangan mereka normal. Sejumlah studi tentang sumber ketidak bahagiaan yang dilaporkan oleh para remaja, banyak memberikan perhatian terhadap masalah sosial. Seperti dalam hal kemampuan bergaul, cara memperlakukan teman agar terhindar dari pertengkaran dan putusnya persahabatan, cara bersikap yang luwes dalam situasi sosial, dan cara mengembangkan kemampuan memimpin. Dan para remaja menganggap bahwa mereka belum menguasai dan memiliki kemampuan yang cukup dalam hal-hal tersebut.
RUMUSAN MASALAH
Adapun pembahasan yang akan dibahas dalam makalah perkembangan sosial ini diantaranya adalah sebagai berikut:
Apakah esensi (definisi) perkembangan sosial?
Bagaimana karakteristik teori yang terdapat pada perkembangan sosial?
Bagaimana bentuk – bentuk tingkah laku sosial pada anak ?
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial seorang anak?
Adakah hazard dalam proses perkembangan sosial anak!
Bagaimana pengaruh perkembangan sosial terhadap tingkah laku anak?
Bagaimana cara mengoptimalkan kemampuan perkembangan sosial seorang anak?
BATASAN MASALAH
Dalam makalah ini, permasalahan yang dibahas hanya seputar perkembangan anak dalam aspek sosial. Adapun pembahasannya dibatasi pada perkembangan sosial dan penyesuaian sosial yang terjadi pada masa anak-anak.
TUJUAN PENULISAN
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas matakuliah Psikologi Perkembangan. Selain itu tujuan penulisan makalah ini juga sebagai bahan belajar bagi kita untuk lebih mengenal tentang perkembangan sosial pada masa anak-anak, seperti:
Memahami hakikat dari perkembangan sosial anak.
Mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak.
Menemukan hazard-hazard yang terjadi dalam proses perkembangan sosial.
Dan dapat memahami tentan cara pengoptimalan kemampuan perkembangan sosial seorang anak.
PENDEKATAN PENULISAN
Adapun pendekatan yang dilakukan dalam penulisan makalah perkembangan sosial ini yaitu dengan cara pengumpulan data dari berbagai sumber buku dan dari beberapa sumber yang diambil dari hasil searching melaui internet. Makalah ini terdiri dari empat bagian, yitu pendahuluan yang meliputi; latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, dan pendekatan penlisan. Isi yang meliputi, definisi, karakteristik teori, esensi sosialisasi, bentuk tingkah lahu sosial, faktor yang mempengaruhu perkembangan, hazard, pola perilaku serta pengoptimalan perkembangan sosial anak. Pada bagian selanjutnya akan berisi tentang analisis kasus. Dan pada bagian terakhir akan dibahas tentang kesimpulan dan saran serta daftar pustaka.
BAB II
PERKEMBANGAN SOSIAL
DEFINISI PERKEMBANGAN SOSIAL
Menurut Hurlock perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial dengan berprilaku yang dapat diterima secara sosial, memenuhi tuntutan yang diberikan oleh kelompok sosial, dan memiliki sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya.
Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
KARAKTERISTIK TEORI
Menurut Erik H. Erikson (1963), perkembangan sosial terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu :
Infancy (0-1 tahun) → Trust VS Mistrust
Early childhood (1-3 tahun) → Autonomy VS Shame, doubt
Preschool age (3-6 tahun) → Inisiative VS Guilt
School age (6-12 tahun) → Industry VS Inveriority
Adolescence (12-20 tahun) → Identity VS Identity confusion
Young adulthood (20-30 tahun) → Intimacy VS Isolation
adulthood (30-65 tahun ) → Generativy VS Stagnation
Senescence (>65 tahun)→ Ego integrity VS Despair
ESENSI SOSIALISASI
Sikap anak-anak terhadap orang lain dalam bergaul sebagian besar akan sangat tergantung pada pengalaman belajarnya selama tahun-tahun awal kehidupan, yang merupakan masa pembentukan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Maka ada empat faktor yang mempengaruhinya :
Pertama, kesempatan yang penuh untuk bersosialisasi adalah penting bagi anak-anak, karena ia tidak dapat belajar hidup bersosialisasi jika kesempatan tidak dioptimalkan. Tahun demi tahun mereka semakin membutuhkan ksempatan untuk bergaul dengan banyak orang, jadi tidak hanya dengan anak yang umur dan tingkat perkembangannya sama, tetapi juga dengan orang dewasa yang umur dan lingkungannya yang berbeda.
Kedua, dalam keadaan bersama, anak tidak hanya harus mampu berkomunikasi dalam kata-kata yang dapat dimengerti orang lain, tetapi juga harus mampu berbicara tentang topik yang dapat dipahami dan dapat menceritakannya secara menarik kepada orang lain. Perkembangan bicara merupakan hal yang terpenting bagi perkembangan sosialisasi anak.
Ketiga, anak akan belajar bersosialisasi jika mereka mempunyai motivasi untuk melakukannya. Motivasi ini sangat bergantung pada tingkat kepuasaan yang diberikan kelompok sosialnya kepada anak. Jika mereka memperoleh kesenangan melalui hubungan dengan orang lain, mereka akan mengulangi hubungan tersebut.
Keempat, metode belajar yang efektif dengan bimbingan yang tepat adalah penting. Dengan metode coba ralat, anak akan mempelajari beberapa perilaku yang penting bagi perilaku sosialnya.
BENTUK-BENTUK TINGKAH LAKU SOSIAL
Dalam perkembangan menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-bentuk interkasi sosial diantarannya :
1. Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.
Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
2. Agresi (Agression)
Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya.
Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat.
3. Berselisih (Bertengkar)
Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
4. Menggoda (Teasing)
Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.
5. Persaingan (Rivaly)
Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pada usia enam tahun semangat bersaing ini akan semakin baik.
6. Kerja sama (Cooperation)
Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik.
7. Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.
8. Mementingkan diri sendiri (selffishness)
Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya
9. Simpati (Sympaty)
Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SOSIAL
Perkembangan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.
2. Kematangan
Untuk dapat bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.
3. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya.
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
5. Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.
HAZARD PADA PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK
Periode Perkembangan dalam Kandungan (Pra-Natal)
Pada masa periode ini, beberapa problem sosial dialami secara tidak langsung yaitu melalui perantara ibu yang hamil. Problem sosial yang dialami oleh ibu hamil juga dirasakan secara tidak langsung oleh anak pada masa pra natal. Salah satu problem sosial ini adalah: keadaan emosi seorang ibu.
Maksudnya adalah keadaan emosi yang dialami juga dirasakan oleh ibu, entah karena disebabkan terjadi masalah dengan suami, ataupun masalah sosial mengenai kehamilan ibu (hamil diluar nikah). Perubahan emosi pada ibu hamil menurut penelitian menyebabkan susunan saraf otonom akan melepaskan beberapa zat kimiawi ke dalam aliran darah, sehingga metabolisme dalam tubuh akan mengalami perubahan. Dengan begitu, akan terjadi perubahan sistem sirkulasi pada janin, dan akan mengganggu perkembangan janin. Apabila hal ini terjadi dapat mempengaruhi emosi janin, karena emosi janin sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu saat mengandung.
Periode Perkembangan Masa bayi
Periode masa bayi berlangsung saat bayi berusia 2 minggu hingga usia 2 tahun. Pada masa ini, bayi banyak melakukan eksplorasi terhadap banyak hal. Dimana terdapat berbagai resiko, untuk itu dalam masa ini bayi masih sangat ketergantungan terhadap orang lain. Untuk itu, dalam masa ini juga bayi sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang diterimanya. Dan juga masa ini juga menjadi dasar dalam masa mendatang, untuk itu pengaruh sosial yang diterima bayi haruslah memberikan contoh yang baik.
Periode Perkembangan Masa Kanak-kanak
Pada masa ini berlangsung pada usia 2 tahun sampai 11 tahun, dimana perkembangan daya pengamatan dan masa keindahan sedang berkembang. Masa ini anak suka mengamati dunia luarnya, serta suka mendengar cerita yang sesuai dengan fantasinya.
Dalam masa ini, merupakan masa dimana anak belajar atau menyukai bergabung dalam sebuah kelompok. Diawali dengan keinginan kontak sosial dengan anak lain dan bermain. Masa ini juga sering disebut sebagai masa bermain, karena anak lebih senang untuk bermain-main dengan anak-anak lain. Pola perilaku sosial yang sering dimunculkan pada anak adalah negativisme, agresif, berkuasa, memikirkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, merusak, pertentangan seks dan prasangka. Perilaku sosial pada anak muncul disebabkan dengan meniru perilaku orang lain, belajar model, reinforcement dari teman.
PENGARUH PERKEMBANGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAH LAKU
Dalam perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kepenilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil pemikiran dirinya tidak akan diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada yang menyembunyikannya atau merahasiakannya.
Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam pikirannya.
Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :
1. Cita-cita dan idealism yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain daalm penilaiannya.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.
CARA MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK
Senam bayi adalah suatu kegiatan yang bisa juga dikatakan sebagai bentuk permainan gerakan pada bayi. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, serta kemampuan pergerakan bayi secara optimal.
Kemampuan sosialnya, dengan memberikan dukungan untuk bersosialisasi dan melatih anak agar terampil melakukan interaksi dan komunikasi. Anak diberi kesempatan untuk dapat bergaul dengan orang lain dan tidak terlalu memberikan perlindungan yang berlebihan.
BAB III
KASUS
Permasalahan yang Mungkin Muncul
Terdapat berbagai kemungkinan permasalahan yang mungkin muncul pada aspek perkembangan sosial ini diantaranya adalah:
Kurangnya kerjasama dari pihak keluarga untuk mengembangkan aspek sosial sang anak (no cooperative)
Adanya faktor genetik yang menghambat atau bahkan tidak mampu untuk bersosialisasi, seperti, diskriminasi karena cacat atau kurangnya komunikasi karena tuna wicara.
Pola asuh yang salah dari orang tua, pola asuh dapat berdampak besar dalam aspek sosial anak di masa depannya, seperti contoh, jika seorang anak diasuh dengan pola ”ringan tangan” atau sedikit kesalahan langsung memakai fisik akan menjadikan anak tersebut ringan tangan juga dan kurang mendapat respon dalam sosialnya
Deskripsi Kasus
Pada tahun 2007 di Cekoslavia terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan seluruh negri tersebut. Ondra, seorang anak laki-laki berumur 8 tahun dikurung di ruang sempit tak berjendela, tanpa pakaian sehelai pun, dan dengan keadaan tangan dan kaki terikat, kekurangan makanan dan dehidrasi serta terpaksa harus memakan muntahannya sendiri. Diatas semua itu, dia bukan diculik, ataupun disiksa oleh orang asing, namun oleh ibunya sendiri. Ibunya yang mempunyai 2 anak lain, dan berkerja dalam penelitian psikologi anak yang sering menangani anak-anak autis. Ondra sendiri mempunyai masalah dengan pendengarannya, hal itu membuat ibunya mudah untuk mengajukan permohonan Homeschooling ke sekolah lamanya. Tidak ada yang merindukan Ondra di sekolah lamanya, atau dimanapun, karena dari awal, ibunya sudah melarang Ondra untuk bergaul dengan siapapun. Keberadaannya dalam penahanan ibunya sendiri berlangsung cukup lama, sampai suatu saat, tetangganya membeli sebuah alat komunikasi radio, dan menangkap frekuensi aneh yang bersuarakan seseorang meminta tolong. Suara itu berasal dari merk radio yang sama yang digunakan Ibu tersebut untuk berkomunikasi dengan Ondra di basement. Dehidrasi dan shock, anak berumur 8 tahun itu langsung dilarikan ke rumah sakit. Kedua saudaranya dibawa ke panti asuhan. Tak berapa lama, Ondra juga bergabung dengan mereka. Tapi seorang psikologis anak, Dita Pokorna, menjelaskan bahwa ketiga anak itu mengalami trauma yang sangat hebat.
“Kau bisa melihat Ondra sangat ketakutan akan segala hal, dan dia benar-benar ngeri pada tempat gelap. Dan pada saat ia akan mulai bergaul lagi dengan teman-temannya, pasti akan banyak reaksi-reaksi abnormal berkenaan dengan masa lalunya yang buruk”
Belum jelas apa motif dari Natasha, Ibu Ondra mengenai kenapa ia menyiksa anaknya berkenaan karena Natasha tidak bisa diinterogasi dan memilih untuk menutup mulutnya. Sedangkan ketiga anak itu juga tidak dapat ditanyai banyak hal. Begitu berhadapan dengan orang dewasa yang mereka tidak kenal, mereka akan mulai gemetar hebat, dan menunjukkan ketakutan yang tidak biasa. Hal yang sama juga terjadi dengan dua anak lainnya, walau tidak separah apa yang dialami Ondra. Ketiga anak tersebut mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapatnya kepada orang lain. Gangguan psikis, serta trauma yang besar seperti yang mereka alami akan menjadi gangguan untuk mereka bersosialisasi pada masa depan nantinya.
Sekarang, Ondra dan satu saudara angkatnya, Kamishca masih dalam tahap perawatan di rumah sakit kejiwaan di Ceko, sedangkan satu saudara laki-laki lainnya, mulai dapat bersekolah walaupun harus masuk ke sekolah luar biasa.
Ondra pasca penyiksaan
Analisis Kasus
Dari kasus diatas, Ondra, sang anak mengalami taruma yang berat terhadap dunia luar dikarenakan dikurung selama beberapa tahun di tempat yang gelap oleh ibunya sendiri. Sebelumnya juga dia tidak diizinkan untuk bergaul dengan teman-temannya di sekolah lamanya oleh ibunya yang membuatnya kurang dlam berkomunikasi. Karena apa yang dilakukan oleh ibunya tersebut Ondra mengalami shock dan trauma yang berat dan kesulitan untuk berkomunikasi karena kurang stimulus/pelatihan, dikarenakan perlakuan itu juga dia kurang mendapatkan basic trust dari orang tuanya yang menyebabkan dia tidak percaya dengan orang lain. Perilaku-perilaku abnormal ini terjadi karena pola asuh anak yang salah dilakukan oleh orangtuanya yang mengakibatkan anaknya mengalami kemunduran dan kesulitan untuk bersosialisasi.
BAB IV
KESIMPULAN
Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial dengan berprilaku yang dapat diterima secara sosial, memenuhi tuntutan yang diberikan oleh kelompok sosial, dan memiliki sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya. Sikap anak-anak terhadap orang lain dalam bergaul sebagian besar akan sangat tergantung pada pengalaman belajarnya selama tahun-tahun awal kehidupan, yang merupakan masa pembentukan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Perkembangan sosial anak dimulai dimulai sejak dini pada masa kanak-kanak dengan munculnya senyuman sosial. reaksi sosial pertama terjadi pada bayi yang ditujukan pada orang dewasa, kemudian pada bayi lain kemudian pada anak-anak. Pola perilaku sosial yang dibina pada masa tersebut merupakan landasan bagi perkembngan sosial kemudian.
Perkembangan sosial akhir masa kanak-kanak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu SD. Pada masa ini biasanya orang tua akan memberikan hanya sedikit waktunya untuk berinteraksi dengan anak, sosialisasi di sekolah pada umumnya terjadi atas dasar interest dan aktvitas bersama, lebih banyak meluangkan waktu untuk teman sebaya dan mulai membentuk hub. peer group (geng) yaitu usaha yang pada saat itu kesadaran sosial berkembang pesat dan telah menjadi pribadi sosial yang merupakan salah salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini dan akan lebih cenderung membentuk hubungan dengan teman perempuan. Gang pada masa kanak-kanak merupakan suatu kelompok yang spontan dan tidak mempunyai tujuan yang diterima secara sosial. Gang merupakan usaha anak untuk menciptakan suatu masyarakat yang sesuai bagi pemenuhan kebutuhan mereka. Gang memberikan pembebasan dari pengawasan orang dewasa. Namun gang juga merupakan modal bagi konsep diri yang baik. Bahkan anak yang tidak menjadi anggota gang akan terlantar dalam segi pengaruh sosialisasi ini dan kemungkinan besar akan mengembangkan konsep diri yang kurang baik.
SARAN
Saat ini banya bahaya dalam proses menuju perkembangan sosial yang umumnya dapat dikendalikan jika diketahui pada saat yang tepat dan jika dilakukan langkah perbaikan untuk menguranginya sebelum menjadi kebiasaan dan menimbulkan reputasi yang kurang baik. Karena itu sebaiknya orang tua benar-benar memperhatikan perkembangan anak sampai ia mampu untuk membedakan dan memilih mana yang baik dan buruk untuk dirinya (dewasa). Tetapi tidak dengan bersikap otoriter terhadap anak, supaya anak merasa lebih nyaman dan tidak takut untuk menceritakan konflik-konflik yang terjadi selama masa perkembangannya.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock B Elizabeth, Developmental Psychology; Mc Grow Hill, Inc, 1980, Alih Bahasa, Istiwidayanti dan suedjarwo, Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta, Erlangga, tt.
Hurlock B Elizabeth, Child Developmental; Mc Grow Hill, Inc, 1978, Alih Bahasa, dr. Med. Meitasari Tjandrasa dan Dra. Muslichah Zarkasih, Perkembangan Anak, Jakarta, Erlangga, tt.
Santrock, John W, Life-Span Development, WM, C Brown Comunication, Inc, 1995, Alih bahasa Achmad Chusairi, S.PSI, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta, Erlangga, 2002.
Jumat, 18 September 2009
Jangan Tunda Amal Kebaikan
Allah ta’ala menggambarkan tentang keistimewaan para Nabi dengan firman-Nya (yang artinya), ”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan disertai rasa harap dan cemas. Dan mereka pun senantiasa khusyu’ dalam beribadah kepada Kami.” (QS. Al Anbiyaa’ [21] : 90).
Bersegera dalam kebaikan
al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat tersebut, bahwa para nabi dan orang-orang salih itu besegera dalam melakukan amal pendekatan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/273. cet al-Maktabah at-Taufiqiyah).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah memaparkan, bahwa maknanya ialah para Nabi itu bersegera dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan mereka juga melakukan kebaikan pada waktu-waktunya yang utama. Mereka pun berusaha untuk menyempurnakan amalan mereka itu dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak mau meninggalkan sebuah keutamaan pun pada saat mereka sanggup untuk meraihnya. Mereka tidak mau menyia-nyiakannya, sehingga kalau kesempatan itu ada maka mereka pun bergegas untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya… (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 530)
Jangan sia-siakan kesempatan!
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya -padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya- maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. Barangsiapa meninggalkan ibadah kepada ar-Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barangsiapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya. Barangsiapa tidak menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah niscaya dia akan menginfakkannya dalam mentaati syaithan. Barangsiapa meninggalkan merendahkan diri dan tunduk kepada Rabb-nya niscaya dia akan dicoba dengan merendahkan diri dan tunduk kepada hamba. Barangsiapa meninggalkan kebenaran niscaya dia akan dicoba dengan kebatilan.” (Tafsir surat al-Baqarah ayat 101-103, Tais al-Karim ar-Rahman hal. 60-61).
Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku dan mengatakan, ”Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang singgah di perjalanan.” Ibnu ‘Umar berkata, “Kalau engkau berada di waktu pagi jangan sekedar menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan sekedar menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari. 6053, Kitab ar-Raqaa’iq)
Asas kebaikan dan keburukan
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Asas seluruh kebaikan adalah pengetahuanmu bahwa apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa saja yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Ketika itulah akan tampak, bahwa semua kebaikan adalah berasal dari nikmat-Nya, maka sudah semestinya kamu pun bersyukur kepada-Nya atas nikmat itu, dan kamu memohon dengan sangat kepada-Nya agar nikmat itu tidak terputus darimu. Dan akan tampak pula, bahwa seluruh keburukan adalah akibat (manusia) dibiarkan bersandar kepada dirinya sendiri dan bentuk hukuman dari-Nya, maka sudah semestinya kamu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya agar menghalangimu dari keburukan-keburukan itu. Mintalah kepada-Nya supaya kamu tidak dibiarkan bersandar pada dirimu sendiri (tanpa ada bantuan dari-Nya) dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan.”
Beliau melanjutkan, ”Seluruh ahli ma’rifat pun telah sepakat bahwa segala kebaikan bersumber dari taufik yang Allah karuniakan kepada hamba. Dan semua bentuk keburukan bersumber dari penelantaran Allah terhadap hamba-Nya. Mereka pun telah sepakat, bahwa hakekat taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkan urusanmu kepada dirimu sendiri. Sedangkan hakekat al-khudzlan (ditelantarkan) yaitu ketika Allah membiarkan kamu bersandar kepada kemampuanmu semata (tanpa bantuan-Nya) dalam mengatasi masalahmu. Kalau ternyata segala kebaikan bersumber dari taufik, sedangkan ia berada di tangan Allah bukan di tangan hamba, maka kunci untuk mendapatkannya adalah do’a, perasaan sangat membutuhkan, ketergantungan hati yang penuh kepada-Nya, serta harapan dan rasa takut kepada-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 94).
Bersegera dalam kebaikan
al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat tersebut, bahwa para nabi dan orang-orang salih itu besegera dalam melakukan amal pendekatan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/273. cet al-Maktabah at-Taufiqiyah).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah memaparkan, bahwa maknanya ialah para Nabi itu bersegera dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan mereka juga melakukan kebaikan pada waktu-waktunya yang utama. Mereka pun berusaha untuk menyempurnakan amalan mereka itu dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak mau meninggalkan sebuah keutamaan pun pada saat mereka sanggup untuk meraihnya. Mereka tidak mau menyia-nyiakannya, sehingga kalau kesempatan itu ada maka mereka pun bergegas untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya… (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 530)
Jangan sia-siakan kesempatan!
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya -padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya- maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. Barangsiapa meninggalkan ibadah kepada ar-Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barangsiapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya. Barangsiapa tidak menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah niscaya dia akan menginfakkannya dalam mentaati syaithan. Barangsiapa meninggalkan merendahkan diri dan tunduk kepada Rabb-nya niscaya dia akan dicoba dengan merendahkan diri dan tunduk kepada hamba. Barangsiapa meninggalkan kebenaran niscaya dia akan dicoba dengan kebatilan.” (Tafsir surat al-Baqarah ayat 101-103, Tais al-Karim ar-Rahman hal. 60-61).
Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku dan mengatakan, ”Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang singgah di perjalanan.” Ibnu ‘Umar berkata, “Kalau engkau berada di waktu pagi jangan sekedar menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan sekedar menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari. 6053, Kitab ar-Raqaa’iq)
Asas kebaikan dan keburukan
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Asas seluruh kebaikan adalah pengetahuanmu bahwa apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa saja yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Ketika itulah akan tampak, bahwa semua kebaikan adalah berasal dari nikmat-Nya, maka sudah semestinya kamu pun bersyukur kepada-Nya atas nikmat itu, dan kamu memohon dengan sangat kepada-Nya agar nikmat itu tidak terputus darimu. Dan akan tampak pula, bahwa seluruh keburukan adalah akibat (manusia) dibiarkan bersandar kepada dirinya sendiri dan bentuk hukuman dari-Nya, maka sudah semestinya kamu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya agar menghalangimu dari keburukan-keburukan itu. Mintalah kepada-Nya supaya kamu tidak dibiarkan bersandar pada dirimu sendiri (tanpa ada bantuan dari-Nya) dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan.”
Beliau melanjutkan, ”Seluruh ahli ma’rifat pun telah sepakat bahwa segala kebaikan bersumber dari taufik yang Allah karuniakan kepada hamba. Dan semua bentuk keburukan bersumber dari penelantaran Allah terhadap hamba-Nya. Mereka pun telah sepakat, bahwa hakekat taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkan urusanmu kepada dirimu sendiri. Sedangkan hakekat al-khudzlan (ditelantarkan) yaitu ketika Allah membiarkan kamu bersandar kepada kemampuanmu semata (tanpa bantuan-Nya) dalam mengatasi masalahmu. Kalau ternyata segala kebaikan bersumber dari taufik, sedangkan ia berada di tangan Allah bukan di tangan hamba, maka kunci untuk mendapatkannya adalah do’a, perasaan sangat membutuhkan, ketergantungan hati yang penuh kepada-Nya, serta harapan dan rasa takut kepada-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 94).
Minggu, 26 Juli 2009
HAKIKAT JIHAD
HAKIKAT JIHAD
Oleh
Ustadz Abu Qatadah
Jihad merupakan puncak kekuatan dan kemuliaan Islam. Orang yang berjihad akan menempati kedudukan yang tinggi di surga, sebagaimana juga memiliki kedudukan yang tinggi di dunia
Secara umum, hakikat jihad mempunyai makna yang sangat luas. Yaitu, berjihad melawan hawa nafsu, berjihad melawan setan, dan berjihad melawan orang-orang fasik dari kalangan ahli bid’ah dan maksiat. Sedangkan menurut syara’ jihad adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang kafir. [Lihat Fathul Bari 6/77]
Sehingga dapat disimpulkan, jihad itu meliputi empat bagian :
Pertama : Jihad melawan hawa nafsu
Kedua : Jihad melawan setan
Ketiga : Berjihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran.
Keempat : Jihad melawan orang-orang munafik dan kafir
Jihad melawan hawa nafsu, meliputi empat masalah :
Pertama : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mencari dan mempelajari kebenaran agama yang haq.
Kedua : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.
Ketiga : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mendakwahkan ilmu dan agama yang haq.
Keempat : Berjihad melawan hawa nafsu dengan bersabar dalam mencari ilmu, beramal dan dalam berdakwah.
Adapun berjihad melawan setan dapat dilakukan dengan dua cara :
Pertama : Berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan yang berupa syubhat dan keraguan yang dapat mencederai keimanan
Kedua : Berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan dan keinginan-keinginan hawa nafsu yang merusak.
Sedangkan berjihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran, meliputi tiga tahapan. Yaitu dengan tangan apabila mampu. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hati, yang setiap kaum muslimin wajib melakukannya. Yaitu dengan cara membenci mereka, tidak mencintai mereka, tidak duduk bersama mereka, tidak memberikan bantuan terhadap mereka, dan tidak memuji mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tiga perkara ; barangsiapa yang pada dirinya terdapat tiga perkara ini, maka dia akan mendapatkan kelezatan iman ; Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah dan dia benci kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka” [HR Bukhari dan Muslim]
“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, maka dia berarti telah sempurna imannya” [HR Abu Dawud]
“Barangsiapa membuat perkara yang baru atau mendukung pelaku bid’ah, maka dia terkena laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia” [HR Bukhari dan Muslim]
Berjihad melawan orang fasik dengan lisan merupakan hak orang-orang yang memiliki ilmu dan kalangan para ulama yaitu dengan cara menegakkan hujjah dan membantah hujjah mereka, serta menjelaskan kesesatan mereka, baik dengan tulisan ataupun dengan lisan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan : “Yang membantah ahli bid’ah adalah mujahid” [Lihat Al-Fatawa 4/13]
Syaikhul Islam juga mengatakan : “Apabila seorang mubtadi menyeru kepada aqidah yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah, atau menempuh manhaj yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dan dikhawatirkan akan menyesatkan manusia, maka wajib untuk menjelaskan kesesatannya, sehingga orang-orang terjaga dari kesesatannya dan mereka mengetahui keadaannya” [Lihat Al-Fatawa 28/221]
Oleh karena itu, membantah ahli bid’ah dengan hujjah dan argumentasi, menjelaskan yang haq, serta menjelaskan bahaya aqidah ahli bid’ah, merupakan sesuatu yang wajib, untuk membersihkan ajaran Allah, agamaNya, manhajNya, syari’atNya. Dan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, menolak kejahatan dan kedustaan ahli bid’ah merupakan fardu kifayah. Karena seandainya Allah tidak membangkitkan orang yang membantah mereka, tentulah agama itu akan rusak. Ketahuilah, kerusakan yang ditimbulkan dari perbuatan mereka, lebih berbahaya daripada berkuasanya orang kafir. Karena kerusakan orang kafir dapat diketahui oleh setiap orang, sedangkan kerusakan pelaku bid’ah hanya diketahui oleh orang-orang alim.
Adapun berjihad melawan orang fasik dengan tangan, maka ini menjadi hak bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan atau Amirul Mukminin, yaitu dengan cara menegakkan hudud (hukuman) terhadap setiap orang yang melanggar hukum-hukum Allah dan RasulNya. Sebagaimana pernah dilakukan Abu Bakar dengan memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, Ali bin Abi Thalib memerangi orang-orang Khawarij dan orang-orang Syi’ah Rafidhah.
Bagaimana dengan berjihad melawan orang-orang munafik dan kafir ? Al-Imam Ibnu Qayyim menyatakan, jihad memerangi orang kafir adalah fardhu ‘ain ; dia berjihad dengan hatinya, atau lisannya, atau dengan hartanya, atau dengan tangnnya ; maka setiap muslim berjihad dengan salah satu di antara jenis jihad ini. [Lihat Zadul Ma’ad 3/64]
Akan tetapi, berjihad memerangi orang kafir dengan tangan hukumnya fardhu kifayah, dan tidak menjadi fardhu ‘ain, kecuali jika terpenuhi salah satu dari empat syarat berikut ini :
Pertama : Apabila dia berada di medan pertempuran.
Kedua : Apabila negerinya diserang musuh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan ; “Apabila musuh telah masuk menyerang sebuah negara Islam, maka tidak diragukan lagi, wajib bagi kaum muslimin untuk mempertahankan negaranya dan setiap negara yang terdekat, kemudian yang dekat, karena negara-negara Islam adalah seperti satu negara” (Al-Ikhtiyarat : 311) Jihad ini dinamakan Jihad Difa’.
Ketiga : Apabila diperintah oleh Imam (Amirul Mukminin) untuk berperang.
Keempat : Apabila dibutuhkan, maka jihad menjadi wajib. [Lihat al-Mughni, Al-Majmu’, Zaadul Mustaqni]
Adapun disyariatkan jihad melawan orang kafir (dengan tangan), melalui tiga tahapan.
Pertama : Diizinkan bagi kaum muslimin untuk berperang dengan tanpa diwajibkan. Allah berfirman.
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” [Al-Hajj : 39]
Kedua : Perintah untuk memerangi setiap orang kafir yang memerangi kaum mulimin. Allah berfirman.
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” [Al-Baqarah : 190]
Ketiga : Perintah untuk memerangi seluruh kaum musyrikin sehingga agama Allah tegak di muka bumi.
“Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya ; dan ketahuiilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” [At-Taubah : 36]
Tahapan yang ketiga ini tidak dimansukh, sehingga menjadi ketetapan wajibnya jihad sampai hari kiamat. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata : “Marhalah (tahapan) yang ketiga ini tidak dimansukh, tetap wajib sesuai dengan kondisi kaum muslimin” [Fadlu Al-Jihad Wal Mujahidin, 2 : 440]
Demikian secara singkat hakikat jihad berserta tahapan-tahapan perintah tersebut. semua ini harus dipahami oleh kaum muslimin, sehingga dalam menetapkan jihad, sesuai dengan keadaan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Wallahu a’lam
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
Oleh
Ustadz Abu Qatadah
Jihad merupakan puncak kekuatan dan kemuliaan Islam. Orang yang berjihad akan menempati kedudukan yang tinggi di surga, sebagaimana juga memiliki kedudukan yang tinggi di dunia
Secara umum, hakikat jihad mempunyai makna yang sangat luas. Yaitu, berjihad melawan hawa nafsu, berjihad melawan setan, dan berjihad melawan orang-orang fasik dari kalangan ahli bid’ah dan maksiat. Sedangkan menurut syara’ jihad adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang kafir. [Lihat Fathul Bari 6/77]
Sehingga dapat disimpulkan, jihad itu meliputi empat bagian :
Pertama : Jihad melawan hawa nafsu
Kedua : Jihad melawan setan
Ketiga : Berjihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran.
Keempat : Jihad melawan orang-orang munafik dan kafir
Jihad melawan hawa nafsu, meliputi empat masalah :
Pertama : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mencari dan mempelajari kebenaran agama yang haq.
Kedua : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.
Ketiga : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mendakwahkan ilmu dan agama yang haq.
Keempat : Berjihad melawan hawa nafsu dengan bersabar dalam mencari ilmu, beramal dan dalam berdakwah.
Adapun berjihad melawan setan dapat dilakukan dengan dua cara :
Pertama : Berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan yang berupa syubhat dan keraguan yang dapat mencederai keimanan
Kedua : Berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan dan keinginan-keinginan hawa nafsu yang merusak.
Sedangkan berjihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran, meliputi tiga tahapan. Yaitu dengan tangan apabila mampu. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hati, yang setiap kaum muslimin wajib melakukannya. Yaitu dengan cara membenci mereka, tidak mencintai mereka, tidak duduk bersama mereka, tidak memberikan bantuan terhadap mereka, dan tidak memuji mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tiga perkara ; barangsiapa yang pada dirinya terdapat tiga perkara ini, maka dia akan mendapatkan kelezatan iman ; Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah dan dia benci kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka” [HR Bukhari dan Muslim]
“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, maka dia berarti telah sempurna imannya” [HR Abu Dawud]
“Barangsiapa membuat perkara yang baru atau mendukung pelaku bid’ah, maka dia terkena laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia” [HR Bukhari dan Muslim]
Berjihad melawan orang fasik dengan lisan merupakan hak orang-orang yang memiliki ilmu dan kalangan para ulama yaitu dengan cara menegakkan hujjah dan membantah hujjah mereka, serta menjelaskan kesesatan mereka, baik dengan tulisan ataupun dengan lisan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan : “Yang membantah ahli bid’ah adalah mujahid” [Lihat Al-Fatawa 4/13]
Syaikhul Islam juga mengatakan : “Apabila seorang mubtadi menyeru kepada aqidah yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah, atau menempuh manhaj yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dan dikhawatirkan akan menyesatkan manusia, maka wajib untuk menjelaskan kesesatannya, sehingga orang-orang terjaga dari kesesatannya dan mereka mengetahui keadaannya” [Lihat Al-Fatawa 28/221]
Oleh karena itu, membantah ahli bid’ah dengan hujjah dan argumentasi, menjelaskan yang haq, serta menjelaskan bahaya aqidah ahli bid’ah, merupakan sesuatu yang wajib, untuk membersihkan ajaran Allah, agamaNya, manhajNya, syari’atNya. Dan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, menolak kejahatan dan kedustaan ahli bid’ah merupakan fardu kifayah. Karena seandainya Allah tidak membangkitkan orang yang membantah mereka, tentulah agama itu akan rusak. Ketahuilah, kerusakan yang ditimbulkan dari perbuatan mereka, lebih berbahaya daripada berkuasanya orang kafir. Karena kerusakan orang kafir dapat diketahui oleh setiap orang, sedangkan kerusakan pelaku bid’ah hanya diketahui oleh orang-orang alim.
Adapun berjihad melawan orang fasik dengan tangan, maka ini menjadi hak bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan atau Amirul Mukminin, yaitu dengan cara menegakkan hudud (hukuman) terhadap setiap orang yang melanggar hukum-hukum Allah dan RasulNya. Sebagaimana pernah dilakukan Abu Bakar dengan memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, Ali bin Abi Thalib memerangi orang-orang Khawarij dan orang-orang Syi’ah Rafidhah.
Bagaimana dengan berjihad melawan orang-orang munafik dan kafir ? Al-Imam Ibnu Qayyim menyatakan, jihad memerangi orang kafir adalah fardhu ‘ain ; dia berjihad dengan hatinya, atau lisannya, atau dengan hartanya, atau dengan tangnnya ; maka setiap muslim berjihad dengan salah satu di antara jenis jihad ini. [Lihat Zadul Ma’ad 3/64]
Akan tetapi, berjihad memerangi orang kafir dengan tangan hukumnya fardhu kifayah, dan tidak menjadi fardhu ‘ain, kecuali jika terpenuhi salah satu dari empat syarat berikut ini :
Pertama : Apabila dia berada di medan pertempuran.
Kedua : Apabila negerinya diserang musuh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan ; “Apabila musuh telah masuk menyerang sebuah negara Islam, maka tidak diragukan lagi, wajib bagi kaum muslimin untuk mempertahankan negaranya dan setiap negara yang terdekat, kemudian yang dekat, karena negara-negara Islam adalah seperti satu negara” (Al-Ikhtiyarat : 311) Jihad ini dinamakan Jihad Difa’.
Ketiga : Apabila diperintah oleh Imam (Amirul Mukminin) untuk berperang.
Keempat : Apabila dibutuhkan, maka jihad menjadi wajib. [Lihat al-Mughni, Al-Majmu’, Zaadul Mustaqni]
Adapun disyariatkan jihad melawan orang kafir (dengan tangan), melalui tiga tahapan.
Pertama : Diizinkan bagi kaum muslimin untuk berperang dengan tanpa diwajibkan. Allah berfirman.
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” [Al-Hajj : 39]
Kedua : Perintah untuk memerangi setiap orang kafir yang memerangi kaum mulimin. Allah berfirman.
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” [Al-Baqarah : 190]
Ketiga : Perintah untuk memerangi seluruh kaum musyrikin sehingga agama Allah tegak di muka bumi.
“Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya ; dan ketahuiilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” [At-Taubah : 36]
Tahapan yang ketiga ini tidak dimansukh, sehingga menjadi ketetapan wajibnya jihad sampai hari kiamat. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata : “Marhalah (tahapan) yang ketiga ini tidak dimansukh, tetap wajib sesuai dengan kondisi kaum muslimin” [Fadlu Al-Jihad Wal Mujahidin, 2 : 440]
Demikian secara singkat hakikat jihad berserta tahapan-tahapan perintah tersebut. semua ini harus dipahami oleh kaum muslimin, sehingga dalam menetapkan jihad, sesuai dengan keadaan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Wallahu a’lam
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
Langgan:
Entri (Atom)


